Minggu, 21 Februari 2010

styrofoam

Solusi Alternatif Pengganti “Styrofoam”

Polisterina foam atau dikenal luas dengan sebutan Styrofoam diduga dapat memicu kanker dan merusak lingkungan. Banyak pihak yang mulai melarang penggunaan benda yang satu ini. Namun, pelarangan tersebut belum diimbangi dengan solusi alternative pengganti Styrofoam.

Dalam era yang serba praktis ini, penggunaan Styrofoam tentu sering Anda jumpai di mana-mana. Mulai dari restoran cepat saji yang terkenal hingga penjual di pinggir jalan. Kualitasnya pun beragam, mulai dari yang memenuhi standar, hingga yang “murah meriah”.
Berdasarkan info dari Badan Pengawas Obat dan Makanan RI , Styrofoam adalah nama dagang yang dipatenkan oleh perusahaan Dow Chemical. Menariknya Dow Chemical membuat Styrofoam dimaksudkan untuk digunakan sebagai insulator pada bahan konstruksi bangunan , bukan untuk kemasan pangan. Namun, Styrofoam tetap digunakan sebagai wadah berbagai macam makanan.
Padahal, Badan POM menyarankan agar menghindari Styrofoam untuk pangan yang panas, bersuhu tinggi, mengandung alcohol, dan asam. Sebab, ada kemungkinan terjadinya migrasi dari monomer stirena ke dalam pangan yang dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan.
Sebagai gambaran, di Jakarta saja setiap harinya sekitar 6.000 ton sampah yang diolah Dinas DKI Jakarta. Dari jumlah tersebut, sekitar 60 persen sampah anorganik merupakan plastic yang sulit diurai dan mengandung bahan kimia berbahaya (kompas, 2/2/2009). Melihat kenyataan tersebut, tak heran jika Styrofoam, tidak diminati pemulung karena sulit didaur ulang.
Kesehatan dan lingkungan memang dua hal yang berisiko muncul akibat penggunaan Styrofoam. Namun, cukup sulit untuk melarang semua pihak menggunakan Styrofoam. Sebab, akan muncul pertanyaan, jika dilarang lalu solusinya menggunakan apa ?

Solusi
Menjawab pertanyaan tersebut, Tim Business Plan (BP) Prasetya Hijau Lestari dan Prasetiya Business School (PMBS), mencoba memberikan solusi alternative pengganti Styrofoam. Menurut Hendro Adiarso Tjatupriono, Faculty Member Department of Operation and Supply Chain Management PMBS, BP adalah sebuah konsep bisnis yang tak hanya berkontribusi untuk organisasi, tetapi juga ke komunitas.
Tim yang beranggotakan Agus B.Tjahjono, Darman Liwaputera, Ika Maya Sari, Iwan Sudirlan, dan M. Iskandar Mirza ini memilih tema BP “Starch based Disposable Tableware” yaitu wadah yang bentuknya serupa dengan Styrofoam, tetapi terbuat dari bahan alami yaitu singkong.
Agus mengatakan, kini semakin banyak pihak yang mulai menghindari penggunaan Styrofoam karena sadar terhadap risikonya. Beberapa pihak ada yang beralih kepada kertas. Namun, penggunaan kertas dapat mengakibatkan rusaknya kelestarian lingkungan. Sebab, pohon yang ditebang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk tumbuh kembali.
“Sebagai solusi, disposable tableware diharapkan dapat menjadi alternatif pengganti Styrofoam. Sebab produk ini terbuat dari 75 persen bahan natural, yaitu singkong dan 90 persen dapat terurai dalam waktu 120 hari.
Pada awalnya, tim ini sempat berpikir menggunakan ampas jerami, jagung, hingga ampas tebu sebagai bahan dasar. Namun, dengan berbagai macam pertimbangan akhirnya singkong dipilih sebagai bahan dasar.
“selain relative lebih murah, siklus hidup singkong cukup pendek sekitar tiga bulan, dan mudah tumbuh”.
Lebih lanjut selain bersifat sebagai water proof, insulator panas, dan tidak mudah pecah, produk ini juga bisa dikatakan zero waste. Sebab, dalam pengolahannya, bahan sisa akan diolah kembali sehingga tak ada yang terbuang.
Demi masa depan yang lebih baik, semua pihak tentu harus saling mendukung dan berbuat sesuatu demi negeri ini. Tak hanya sekadar melarang, tetapi memberikan solusi.




Reference : kompas, 3/1/10

0 komentar:

Posting Komentar