Minggu, 21 Februari 2010

Pemanasan Global

Dengan AC, Selamatkan Bumi
Pengatur suhu ruangan merupakan peranti yang paling dibutuhkan di perumahan, perkantoran, dan bangunan publik lainnya. Namun, mesin ini paling besar menyedot listrik dibandingkan peranti elektronik lainnya. Maka, berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan listrik, mulai dari penggunaan mesin inverter hingga sensor pengatur operasi.
Pengatur suhu ruangan yang disebut AC atau air conditioner menjadi produk elektronik yang paling seksi karena keberadaannya memberikan kenyamanan nyata bagi penghuni ruangan.
Selama ini, untuk menambah daya tarik mesin ini, beberapa aplikasi teknologi disisipkan. Antara lain, dipasang teknologi plasma untuk mengurai molekul partikel menjadi ion, yang ukurannya jauh lebih kecil.
Ion ini akan mengikat molekul air. karena virus bersifat higroskopis, ion ini sekaligus akan menangkap virus. Virus yang tertangkap lalu dikumpulkan dalam filter atau penyaring. Pada system plasma, pembangkitan ion tercapai dengan daya hingga 5 elektron volt.
Selain itu, perhatian diarahkan pada upaya meningkatkan efisiensi mesin pendingin ruangan. Untuk itu, diperkenalkan system inverter yang merupakan komponen pengatur kecepatan kompresor. Dengan system ini, kecepatan AC bisa diatur sesuai kebutuhan. Proses mendinginkan udara pun lebih cepat sehingga konsumsi listrik lebih sedikit.
Menurut Heribertus Ronny, Manajer Produk AC Panasonic Globel Indonesia, ketika mesin pendingin ini dinyalakan, waktu yang dibutuhkan untuk mencapai suhu yang diinginkan 1,5 kali lebih cepat dibanding AC biasa. Kelebihan lain inverter yang dikembangkan sejak than 2007 ini adalah dapat menyesuaikan daya yang dikeluarkan untuk mencapai suhu yang ditetapkan. Pada AC non-inverter pengendalian suhu dilakukan dengan menekan tombol “ON” dan “OFF”. Akibatnya, suhu menjadi tidak merata. System inverter berlaku sebaliknya.
Teknologi inverter dikembangkan untuk menghemat listrik dan menekan emisi gas buang karbon dioksida sehingga AC ini menjadi produk ramah lingkungan. Menurut laporan survey produk berwawasan lingkungan, Peace 2007, setiap penghematan daya listrik 4,7 kilowatt perhari akan mengurangi emisi karbon dioksida sebanyak 3,7 kg per hari.
Uji coba yang dilakukan perusahaan elektronik Jepang ini menunjukkan, ada penghematan listrik hingga 50 persen dibandingkan dengan AC non-inverter. Pada pengujian, pendinginan dilakukan pada ruangan selluas 16 meter persegi selama 8 jam per hari. Suhu ruangan disetel 25 derajat celcius, suhu di luar ruangan 35 derajat celcius.
Untuk mesin AC berkapasitas 1,5 PK pada system konvensional, dibutuhkan daya 6,4 kWh per hari. Adapun yang dilengkapi inverter hanya menggunakan 4,2 kWh per hari.
Dengan memasang sirkit integrasi (IC)sebagai pengendali, inverter akan bekerja dengan daya minimum setelah suhu udara mencapai tingkat yang diinginkan. Penggunaan inverter ini dapat mengemat listrik hingga 50 persen.

Sensor suhu dan gerak
Efisiensi penggunaan listrik masih dapat ditingkatkan dengan menerapkan sensor pada unit pendingin ruangan ini.
Ada dua sensor yang terpasang di ujung kanan bawah kontak pendingin itu, yaitu sensor penangkap keberadaan obyak bergerak dan suhu obyek itu.
Ketika aktivitas itu rendah, misalnya penghuni ruangan tengah membaca buku atau tidur, suhu ruang akan sesuai dengan pengaturan awal, yaitu 25 derajat celcius.
Namun, bila aktivitas tinggi dan jumlah orang bertambah, suhu akan turun 2 derajat celcius secara otomatis. Ketika ruangan kosong, suhu akan naik 2 derajat celcius dari suhu standar pada awalnya.
Dengan menrapkan sensor yang disebut eco-patrol, beban AC dapat diminimalkan sehingga listrik bisa dihemat 20 persen. Bersama penggunaan inverter, total penghematan mencapai 60 persen.
Sensor juga digunakan untuk memonitor udara, yang menunjukkan tingkat kualitas udara ruangan melalui indicator warna lampu kecil di bagian kiri. Udara berkualitas buruk ditunjukkan dengan lampu berwarna merah.
Segera setelah itu pembersih udara, dalam ini system plasma, akan beroperasi. Sebanyak tiga triliun ion akan dilepaskan untuk menangkap partikel berbahaya di udara, seperti virus , bakteri, dan jamur.
Penggunaan system pengendali untuk AC sudah selangkah lebih maju di Korea Selatan. Di Negara Ginseng ini, untuk menyalakan dan mematikan peralatan pendingin ini, dapat dilakukan dengan telepon genggam dari jarak jauh. Dengan demikian, ketika sampai di rumah, penghuninya mendapatkan ruangan telah bersuhu sejuk.
Konsep “ Go Green” pada AC juga dapat diterapkan dengan menggunakan bahan ramah lingkungan pada komponen-komponennya, menggantikan logam berbahaya, seperti timbel , dan kadmium.
Penggunaan teknologi yang efisien dan rama lingkungan juga akan diterapkan pada perabot elektronik lainnya, seperti kulkas, mesin cuci, dan microwave.


Reference :Kompas, 20 Februari 2010

0 komentar:

Posting Komentar